Senin, 14 Desember 2015

Trip ke Sanghyang Heuleut


Menguak Misteri Sanghyang Heuleut
                Minggu,15 November 2015 adalah salah satu hari yang sangat mengesankan bagi saya pribadi.Karena pada hari itu saya kembali bisa mendapatkan pengalaman berharga.Tepatnya saya bisa mendapat kesempatan untuk mengunjungi serta menyaksikan salah satu gambaran atau karya Tuhan yang sangat luar biasa indah.Ya,seperti judul diatas,pada hari itu saya dan kawan-kawan mengunjungi “Sanghyang heuleut”,salah satu danau purba yang masih cukup terjaga keasriannya.
                Awalnya rencana untuk mengunjungi Sanghyang Heuleut itu adalah tanggal 14 November 2015 atau tepatnya hari sabtu sepulang sekolah,Namun..rencana itu urung dilaksanakan karena selain hari yang sudah sore ditambah cuaca mendung yang sedang menghiasi langit kota Cimahi membuat rencana mengunjungi tempat indah tersebut benar-benar gagal.Dan akhirnya setelah berembuk dengan kawan-kawan akhirnya keputusan kapan kita akan mengunjungi Sanghyang Heuleut adalah hari minggu tanggal 15 November 2015.Dan tempat berkumpul kita esok adalah di Sekolah SMK TUTWURI HANDAYANI CIMAHI pukul 09.00 WIB
                Keesokan harinya aku bangun pukul 06.00 WIB.Kulihat cuaca pagi kota Cimahi cukup bersahabat untuk mengawali hari Minggu yang nampaknya akan melelahkan ini.Dengan sedikit malas,aku beranjak ke kamar mandi untuk mandi pagi,setelah itu aku sarapan dan setelahnya aku mempersiapkan apa saja yang akan aku bawa untuk menaklukan medan yang akan dihadapi nanti.Aku memakai sepatu olahraga,kaos putih berbalut jaket berbahan hangat serta celana jeans hitam ketat ditambah tas untuk membawa makanan seperti cemilan dan air minum.Setelah semua dirasa beres,aku melihat jam,ternyata sudah menunjukan pukul 08.00.Akupun mempersiapkan motor  Yamaha mio GT ku untuk meluncur ke rumah temanku Mustika.
                Rumah Mustika tidak begitu jauh dari sekolah,jadi hanya dengan waktu setengah jam saja dari rumahku,aku sudah sampai di Rumah Mustika.Dari rumah Mustika aku kesekolah untuk berkumpul dengan kawan-kawan yang lain.Tetapi sesampainya di sekolah,kami malah bertemu dengan kakak-kakak yang sedang kuliah,tidak ada satupun kawan kami yang sudah datang,padahal jam sudah menunjukan pukul 09.00.setelah 1 jam menunggu akhirnya satu teman kita datang,yaitu Lilis,15 menit kemudian mulailah berdatangan yang lain seperti Irvan,Dedi,Ahmad Koswara,dan Deban.Kami sudah berjumlah 7 orang saat itu,jam menunjukan pukul 10.30,tetapi kita belum juga berangkat.Ketika ku ajak berangkat,Deban mengatakan bahwa masih ada yang harus ditunggu.
Akhirnya ketika jam menunjukan pukul 11.00 datanglah Kent dan Alifian.Setelah mereka datang akhirnya kita berangkat menuju salah satu rumah teman yang juga akan  diajak kesana.
                Setelah mengendarai Motor dari SMK TWH CIMAHI selama setengah jam kami sampai di desa Cibacang,yaitu daerah tempat tinggal Koswara.Setelah kita sampai dirumah Koswara,kita ajak dia untuk ikut,Koswara tidak menolak.Akhirnya kita genap bersepuluh saat itu,dengan masing-masing motor mengangkut  2 orang,motor Yamaha Mio GT mengangkut Aku dan Mustika,motor Yamaha Mio Fino mengangkut Alifian dan Ahmad,Yamaha Jupiter Mx merah oleh Deban dan Kent,Yamaha Jupiter Mx biru oleh Dedi dan Koswara,dan terakhir Honda Scoopy dikendarai oleh Irvan dan Lilis.
                Dari rumah Koswara tepatnya pukul 11.30 kami berangkat menuju Sanghyang Heuleut yang menurut artikel yang saya baca ada di Rajamandala,Bandung Barat.Rute yang kami ambil adalah Kota Baru Parahyangan,dari sana lurus terus sampai bertemu pertigaan atau tepatnya pasar Padalarang.Jika sudah sampai sana,jangan ambil arah kanan,tetapi tetap lurus arah Cianjur,Sukabumi.Jika belok kanan kita malah nyasar ke Purwakarta atau Cipeundeuy nantinya.Setelah itu,kita ikuti saja jalan itu selama kurang lebih satu setengah jam.Jalan yang dilewati dari pasar Padalarang sampai pintu masuk atau gapura PLTA Saguling sangatlah indah luar bias,kita melewati Indahnya Situ Ciburuy,serta Curamnya Tebing-tebing seperti di Stone garden.Jalannya pun berkelak-kelok,sangat dibutuhkan konsentrasi penuh ketika melewati jalan Cipatat-Rajamandala.
                Setelah satu setengah jam dari pasar Padalarang  mengendarai motor di  jalan yang berkelak-kelok membelah hutan dan tebing,akhirnya kami sampai di Pintu Masuk PLTA Saguling,dari pintu masuk kami menanyakan arah ke Sanghyang Heuleut pada warga sekitar,kata salah seorang warga letaknya lumayan masih jauh,akhirnya kami terus menyusuri jalan kira-kira 1  KM,sampai akhirnya kami sampai di Pos Penjaga,disana kami disambut dengan ramah oleh bapak penjaga portal yang dengan senang hati membukakan portal bagi kami,Dari tempat Portal kira-kira 1 Km lagi barulah kita sampai di tempat Parkiran disebelah Power House.
                Dari tempat parkir motor,aroma udara disana sangatlah tidak enak,itu disebabkan oleh bau air Waduk Saguling yang sudah tercemar oleh Limbah-limbah kimia berbahaya.Di tempat parkiran kami menanyakan kepada Penjual Baso Tahu masihkah jauh Sanghyang Heuleut,kami menanyakan karena di tempat parkiran,kami tidak melihat tanda-tanda adanya Danau.Setelah mendengar penjelasan dari penjual Baso tahu,ternyata letaknya masih lumayan jauh dari tempat parkir kita mesti berjalan 1-2 jam lagi ke arah atas.Tetapi ketika saya menanyakan letak Sanghyang Tikoro Penjual baso tahu langsung menunjuk ke tidak jauh dari tempat parkiran.Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Sanghyang Tikoro terlebih dahulu sebelum menuju Sanghyang Heuleut.
                Setelah berjalan beberapa puluh meter dari tempat Parkiran kami sampai di Sanghyang Tikoro.Sesuai dengan namanya,ternyata Sanghyang Tikoro itu adalah aliran sungai yang masuk kedalam gua yang gelap gulita.seperti halnya air yang masuk kedalam tenggorokan.Sungguh luar biasa penuh misteri Gua Sanghyang tikoro ini,bagaimana tidak,sampai detik ini pun belum ada satu orang pun yang tahu kemana aliran sungai yang masuk kedalam gua tersebut.Selain itu juga tidak ada yang tahu persis berapa panjang gua tersebut.Dan konon katanya,jika ada benda apapun bahkan sebatang lidi pun jika masuk kedalam Sanghyang Tikoro katanya dari dalam gua akan terdengar seperti suara rintihan.Entahlah yang jelas saat itu kami hanya bisa bertanya-tanya dalam hati kemanakah aliaran sungai tersebut.
                Setelah puas melihat lihat Sanghyang Tikoro,kami melanjutkan perjalanan menuju Sanghyang Heuleut.Dari Sanghyang Tikoro,kami berjalan keatas mengikuti Pipa Raksasa yang terdapat di Power House,jalannya sangat menanjak dan curam,ditambah sinar matahari yang cukup terik membuat peluh kami bercucuran.Akhirnya dengan penuh perjuangan kami sampai di Puncak,Kami berisitirahat sejenak di Bawah Pipa Raksasa.Disana terdapat banyak penjual makanan dan minuman,kami membeli beberapa makanan dan minuman sambil bertanya kearah mana Sanghyang Heuleut.Setelah dirasa cukup,kami pun melanjutkan perjalanan.Kami masuk melewati jalan setapak yang membelah lebatnya Hutan Rajamandala.Jalur awal yang kami lalui memang masih enak atau masih cukup landai sehingga kami pun masih bersuka hati dengan ekspresi muka yang belum menunjukan raut wajah kelelahan.
                Kami berjalan berbaris seperti semut,Nampak banyak sekali orang yang berjalan kea rah jalan pulang,kami sempat berfikir bahwa kami akan telat atau mungkin hanya kami saja pengunjung Sanghyang heuleut yang datang pukul 15.00,tetapi anggapan itu hilang begitu saja saat kami juga melihat lumayan banyak orang yang setujuan atau searah dengan kami.Setelah 30 menit pertama kami disuguhkan jalan yang masih bagus,dan tidak curam,kami sampai juga disuatu sungai,disitu kami harus menyebrang sungai untuk melanjutkan perjalanan.Kondisi jalan untuk menyebrangi sungai cukup curam,banyak sekali batu-batu besar nan terjal yang menghalangi,tetapi itu tidak menghalangi niat kami untuk segera sampai ke Sanghyang Heuleut.
                Setelah menyebrangi sungai,kira-kira 30 menit kedua,kami mulai melewati jalan setapak yang sudah curam,selain jalan yang sudah menyatu dengan aliran sungai membuat kami harus berjalan melawan arus sungai,beberapa kali kami harus menyebrang sungai lagi hingga celana dan sepatu kami basah.Tetapi semua itu bukan penyebab urungnya niat kami untuk tetap ke Sanghyang Heuleut.Setelah melewati 30 menit kedua,kami mulai sampai di ujung jalan setapak,kali ini sudah benar-benar tidak ada jalan yang enak dan bagus,hanya aliran sungai lah yang ada.Kamipun terus berjalan melawan arus Sungai.Aku akui jalan di 30 menit ketiga ini sungguh mengura s tenaga,aku sampai sedikit ngos-ngosan dibuatnya,dan juga sedikit keringat keluar dari tubuhku,padahal cuaca disana lumayan dingin.
                Akhirnya setelah melalui 30 menit ketiga dengan susah payah,kamipun sampai di surga tersembunyi yang sangat indah menawan.Mata kami seakan dimanjakan dengan barisan rapi seperti terstruktur bebatuan yang besar nan menjulang,ditambah ada air terjun mini yang dialiri air dari hulu sungai menambah keelokan Danau Sanghyang Heuleut.Selain itu warna air yang hijau kecokelatan menambah indah pemandangan karya Tuhan yang sangat luar biasa itu.Terlihat banyak orang yang berenang disungai,ada yyang menggunakan pelampung,ada juga yang tidak menggunakan pelampung.Pemandangan itu membuat aku sangat bergairah untuk segera menceburkan diri melepas gerah yang sedari tempat parkiran sudah tak tertahankan.
                Selain banyak orang yang berenang,ada satu pemandangan yang membuat kami takjub,yaitu ada beberapa orang yang melompat dari batu yang tingginya bervariasi.Ada yang melompat dari batu yang tingginya relatif rendah,namun ada juga yang berani melompat dari batu yang cukup ekstrim tingginya,kira-kira 15 M-20M batu yang paling tinggi.Melihat itu,Aku mengajak Deban untuk ikut melompat dari batu yang paling tinggi.Awalnya aku bingung karena aku tidak ada pelampung,akhirnya kami mencari tempat penyewaan pelampung.Kami hanya menyewa 1 Pelampung,Tarifnya yaitu Rp.20.000.setelah menyewa pelampung,akulah orang pertama yang memakainya,akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk melompat dari batu yang berketinggian 7 M saja.Aku terus memanjat batu tersebut walaupun sedikit sulit,tetapi akhirnya aku sampai juga diatas batu.Setelah berfikir sejenak,akhirnya aku lompat juga.Rasanya sangat memacu adrenalin.Aku ingin mencoba lagi,tetapi aku harus ganti giliran pelampung dengan Deban,akhirnya aku berikan pelampung pada Deban.Tak disangka,setelah Deban memakai pelampung,kulihat dia memanjat batu yang paling tinggi.Dalam hatiku cukup tinggi juga nyali dia.Setelah Deban sampai diatas batu yang paling tinggi,tanpa fikir panjang dia langsung melompat dan..Buarrr..terceburlah dia ke air.
                Setelah melihat Deban melompat dari batu yang paling tinggi,aku pun tak mau kalah,walaupun sebenarnya aku takut ketinggian,tapi aku mencoba melawan rasa takut dalam hatiku.Aku mengambil pelampung dari Deban,setelah aku pakai,aku langsung merangkak mendaki Batu yang paling tinggi.Setelah aku berada di puncak batu,aku termenung sejenak,teryata jika dilihat dari atas,batu ini sangatlah tinggi,jantungku berdebar kencang,setengah hatiku mengatakan untuk melompat,tetapi setengah lagi mengatakan untuk tidak melompat.Akhirnya aku memantapkan hati dan Jeburrrrr,,,Aku berhasil melompat dari batu yang paling tinggi,setelah itu,aku ketagihan,walaupun sedikit sakit jika kita salah mendarat.Tetapi aku mendapat pengalaman yang tidak akan terlupakan.
                Melihat aku dan Deban berenang,Akhirnya kawan-kawan yang lain pun ikut berenang dan melompat dari batu.Irvan,Alifian,Ahmad,Koswara,Dedi,dan Mustika pun ikut menceburkan diri.Hanya Lilis dan Kent lah yang tidak ikut berenang.Dan kali ini Irvan,Alifian,Ahmad,Koswara,dan Dedi pun ikut melompat dari batu,hanya Mustika yang tidak melompat,ia hanya berenang-renang saja.Tetapi yang berani melompat dari batu yang paling tinggi hanya Aku,Deban,dan Koswara saja,yang lain tidak melompat,alasannya karena air nya terlalu dalam.Saaat kami asyik bermain air,Lilis merekam semua dengan Video Camera,jadi semuanya terekam dan siap untuk ditonton sesampainya di rumah nanti.Sementara Kent dengan setia menjaga semua barang-barang dan tas kami.
                Setelah kurang lebih 1 jam kami bermain air,akhirnya ada seorang bapak paruh baya mengumumkan bahwa areal Sanghyang Heuleut harus sudah dikosongkan dari Wisatawan,Karena hari sudah menunjukan Pukul 16.00 dan awan pun menunjukan tanda-tanda akan hujan.Akhirnya kami pun bergegas untuk pulang.Tak lupa kami juga menyempatkan berfoto ria disekitar Sanghyang Heuleut.Setelah semua dirasa siap,kamipun bersiap untuk meninggalkan areal Sanghyang Heuleut,hujan sudah mulai turun dengan intensitas sedang,membuat kami sedikit basah kuyup.Kamipun terus menyusuri jalan pulang dengan kali ini medan terasa lebih berat karena banyak lumpur dihampir sepanjang jalan,itu diakibatkan karena hujan mulai turun dengan lebat,untunglah hutan lumaya rimbun,jadi rintik hujan tidak terlalu lebat menerpa kami.
Diperjalanan menuju parkiran,tak banyak yang kami bahas,mungkin karena rasa lelah yang mulai menerpa kita.Namun ada satu kejadian kocak sekaligus menyedihkkan,yaitu ketika kami menyebrang sungai,Deban dan Mustika Jatuh,dan menyebabkan handphone Mustika Mati atau rusak karena kemasukan air,semenjak kejadian itu,Mustika yang awalnya banyak bicara dan cerewet,menjadi pendiam dan tidak banyak tingkah,aku sedikiit iba padanya,tetapi ya mungkin menurut dia lebih baik begitu.Setelah 1 setengah jam kami berjalan,akhirnya kami sampai di tempat pipa raksasa,disitu saat kulihat jam,sudah menunjukan pukul 17.00.Kami istirahat sejenak sembari kembali berfoto-foto.Setelah puas,kami melanjutkan perjalanan menuju tempat parkiran.Kami terus berjalan menuruni dan mengikuti arah Pipa Raksasa.Jalan yan kami lalui sangat curam,Turunannya sangat tajam,diperparah dengan kondisi jalan yang licin akibat diguyur hujan yang cukup lebat.
Sesampainya di parkiran,aku kembali melihat jam,ternyata jam sudah menunjukan pukul 17.30.Setelah kami membayar parkir dengan tariff Rp.5000 akhirnya kami memacu motor kami untuk perjalanan pulang.Saat kami sampai di gapura PLTA Saguling,hujan kembali turun dengan derasnya,dan hari pun sudah hampir gelap.Tetapi kami terus melaju kea rah Cipatat-Padalarang.Setelah gelap mulai datang,kami benar-benar harus ekstra konsentrasi,terutama kami yang mengendarai motor,bagaimana tidak kami mengendarai motor di jalan yang berkelak-kelok membelah hutan dan tebing,minimnya lampu penerangan jalan,serta banyaknya mobil-mobil besar seperti bus dan truk,diperparah jalan yang licin karena diguyur hujan membuat kami benar-benar berkonsentrasi pada jalan.Kecepatan kami saat itu pun hanya 40Km/jam.
Setelah satu setengah jam mengendarai motor,kami tiba di rumah Koswara yang terletak di kampong Cibacang untuk mengantarkan Koswara pulang,dari Rumah Koswara,kita mulai terpisah,aku memacu motorku menuju alun-alun Cimahi,dari alun-alun aku belok ke kiri kearah Citeureup tepatnya di Polsek Cimahi,sesampainya disana aku antarkan Mustika sampai Rumahnya.Setelah itu aku memacu motorku ke arah jalan Gatot Subroto tepatnya Rumahku.
                Aku sampai dirumah pukul 19.15,sesampainya dirumah aku sedikit diomeli oleh ayah karena pergi sedari pagi dan baru pulang malam,Namun aku menerima itu dan langsung mandi,setelah itu aku makan dan akhirnya terlelap tidur.Ahhh…benar-benar satu pengalaman berharga yang sangat berkesan di kehidupanku,aku tidak akan melupakan petualangan ini.Harapanku,semoga anak cucuku serta generasi yang akan datang nanti bisa lebih menghargai alam,menjaga kearifan alam,serta merawat alam agar tidak rusak atau tergerus oleh kemajuan teknologi saat ini,sehingga hasilnya pun bisa dinikmati oleh bersama-sama..Tak lupa juga aku selalu mengucapkan terima kasih banyak kepada Tuhan,Keluarga,Kawan-kawan,serta semua orang yang terlibat untuk menghasilkan semua cerita dan pengalaman yang luar biasa ini..