Menguak
Misteri Sanghyang Heuleut
Minggu,15 November 2015 adalah
salah satu hari yang sangat mengesankan bagi saya pribadi.Karena pada hari itu
saya kembali bisa mendapatkan pengalaman berharga.Tepatnya saya bisa mendapat
kesempatan untuk mengunjungi serta menyaksikan salah satu gambaran atau karya
Tuhan yang sangat luar biasa indah.Ya,seperti judul diatas,pada hari itu saya
dan kawan-kawan mengunjungi “Sanghyang heuleut”,salah satu danau purba yang
masih cukup terjaga keasriannya.
Awalnya rencana untuk
mengunjungi Sanghyang Heuleut itu adalah tanggal 14 November 2015 atau tepatnya
hari sabtu sepulang sekolah,Namun..rencana itu urung dilaksanakan karena selain
hari yang sudah sore ditambah cuaca mendung yang sedang menghiasi langit kota
Cimahi membuat rencana mengunjungi tempat indah tersebut benar-benar gagal.Dan
akhirnya setelah berembuk dengan kawan-kawan akhirnya keputusan kapan kita akan
mengunjungi Sanghyang Heuleut adalah hari minggu tanggal 15 November 2015.Dan
tempat berkumpul kita esok adalah di Sekolah SMK TUTWURI HANDAYANI CIMAHI pukul
09.00 WIB
Keesokan harinya aku bangun
pukul 06.00 WIB.Kulihat cuaca pagi kota Cimahi cukup bersahabat untuk mengawali
hari Minggu yang nampaknya akan melelahkan ini.Dengan sedikit malas,aku
beranjak ke kamar mandi untuk mandi pagi,setelah itu aku sarapan dan setelahnya
aku mempersiapkan apa saja yang akan aku bawa untuk menaklukan medan yang akan
dihadapi nanti.Aku memakai sepatu olahraga,kaos putih berbalut jaket berbahan
hangat serta celana jeans hitam ketat ditambah tas untuk membawa makanan
seperti cemilan dan air minum.Setelah semua dirasa beres,aku melihat
jam,ternyata sudah menunjukan pukul 08.00.Akupun mempersiapkan motor Yamaha mio GT ku untuk meluncur ke rumah
temanku Mustika.
Rumah Mustika tidak begitu jauh
dari sekolah,jadi hanya dengan waktu setengah jam saja dari rumahku,aku sudah
sampai di Rumah Mustika.Dari rumah Mustika aku kesekolah untuk berkumpul dengan
kawan-kawan yang lain.Tetapi sesampainya di sekolah,kami malah bertemu dengan
kakak-kakak yang sedang kuliah,tidak ada satupun kawan kami yang sudah
datang,padahal jam sudah menunjukan pukul 09.00.setelah 1 jam menunggu akhirnya
satu teman kita datang,yaitu Lilis,15 menit kemudian mulailah berdatangan yang
lain seperti Irvan,Dedi,Ahmad Koswara,dan Deban.Kami sudah berjumlah 7 orang
saat itu,jam menunjukan pukul 10.30,tetapi kita belum juga berangkat.Ketika ku
ajak berangkat,Deban mengatakan bahwa masih ada yang harus ditunggu.
Akhirnya ketika jam menunjukan pukul 11.00 datanglah Kent dan Alifian.Setelah mereka datang akhirnya kita berangkat menuju salah satu rumah teman yang juga akan diajak kesana.
Akhirnya ketika jam menunjukan pukul 11.00 datanglah Kent dan Alifian.Setelah mereka datang akhirnya kita berangkat menuju salah satu rumah teman yang juga akan diajak kesana.
Setelah mengendarai Motor dari
SMK TWH CIMAHI selama setengah jam kami sampai di desa Cibacang,yaitu daerah
tempat tinggal Koswara.Setelah kita sampai dirumah Koswara,kita ajak dia untuk
ikut,Koswara tidak menolak.Akhirnya kita genap bersepuluh saat itu,dengan
masing-masing motor mengangkut 2
orang,motor Yamaha Mio GT mengangkut Aku dan Mustika,motor Yamaha Mio Fino
mengangkut Alifian dan Ahmad,Yamaha Jupiter Mx merah oleh Deban dan Kent,Yamaha
Jupiter Mx biru oleh Dedi dan Koswara,dan terakhir Honda Scoopy dikendarai oleh
Irvan dan Lilis.
Dari rumah Koswara tepatnya
pukul 11.30 kami berangkat menuju Sanghyang Heuleut yang menurut artikel yang
saya baca ada di Rajamandala,Bandung Barat.Rute yang kami ambil adalah Kota
Baru Parahyangan,dari sana lurus terus sampai bertemu pertigaan atau tepatnya
pasar Padalarang.Jika sudah sampai sana,jangan ambil arah kanan,tetapi tetap
lurus arah Cianjur,Sukabumi.Jika belok kanan kita malah nyasar ke Purwakarta
atau Cipeundeuy nantinya.Setelah itu,kita ikuti saja jalan itu selama kurang
lebih satu setengah jam.Jalan yang dilewati dari pasar Padalarang sampai pintu
masuk atau gapura PLTA Saguling sangatlah indah luar bias,kita melewati
Indahnya Situ Ciburuy,serta Curamnya Tebing-tebing seperti di Stone
garden.Jalannya pun berkelak-kelok,sangat dibutuhkan konsentrasi penuh ketika
melewati jalan Cipatat-Rajamandala.
Setelah satu setengah jam dari
pasar Padalarang mengendarai motor
di jalan yang berkelak-kelok membelah
hutan dan tebing,akhirnya kami sampai di Pintu Masuk PLTA Saguling,dari pintu
masuk kami menanyakan arah ke Sanghyang Heuleut pada warga sekitar,kata salah
seorang warga letaknya lumayan masih jauh,akhirnya kami terus menyusuri jalan
kira-kira 1 KM,sampai akhirnya kami
sampai di Pos Penjaga,disana kami disambut dengan ramah oleh bapak penjaga
portal yang dengan senang hati membukakan portal bagi kami,Dari tempat Portal
kira-kira 1 Km lagi barulah kita sampai di tempat Parkiran disebelah Power
House.
Dari tempat parkir motor,aroma
udara disana sangatlah tidak enak,itu disebabkan oleh bau air Waduk Saguling
yang sudah tercemar oleh Limbah-limbah kimia berbahaya.Di tempat parkiran kami
menanyakan kepada Penjual Baso Tahu masihkah jauh Sanghyang Heuleut,kami
menanyakan karena di tempat parkiran,kami tidak melihat tanda-tanda adanya
Danau.Setelah mendengar penjelasan dari penjual Baso tahu,ternyata letaknya
masih lumayan jauh dari tempat parkir kita mesti berjalan 1-2 jam lagi ke arah
atas.Tetapi ketika saya menanyakan letak Sanghyang Tikoro Penjual baso tahu
langsung menunjuk ke tidak jauh dari tempat parkiran.Akhirnya kami memutuskan
untuk mengunjungi Sanghyang Tikoro terlebih dahulu sebelum menuju Sanghyang Heuleut.
Setelah berjalan beberapa puluh
meter dari tempat Parkiran kami sampai di Sanghyang Tikoro.Sesuai dengan
namanya,ternyata Sanghyang Tikoro itu adalah aliran sungai yang masuk kedalam
gua yang gelap gulita.seperti halnya air yang masuk kedalam tenggorokan.Sungguh
luar biasa penuh misteri Gua Sanghyang tikoro ini,bagaimana tidak,sampai detik
ini pun belum ada satu orang pun yang tahu kemana aliran sungai yang masuk
kedalam gua tersebut.Selain itu juga tidak ada yang tahu persis berapa panjang
gua tersebut.Dan konon katanya,jika ada benda apapun bahkan sebatang lidi pun
jika masuk kedalam Sanghyang Tikoro katanya dari dalam gua akan terdengar
seperti suara rintihan.Entahlah yang jelas saat itu kami hanya bisa
bertanya-tanya dalam hati kemanakah aliaran sungai tersebut.
Setelah puas melihat lihat
Sanghyang Tikoro,kami melanjutkan perjalanan menuju Sanghyang Heuleut.Dari
Sanghyang Tikoro,kami berjalan keatas mengikuti Pipa Raksasa yang terdapat di
Power House,jalannya sangat menanjak dan curam,ditambah sinar matahari yang
cukup terik membuat peluh kami bercucuran.Akhirnya dengan penuh perjuangan kami
sampai di Puncak,Kami berisitirahat sejenak di Bawah Pipa Raksasa.Disana
terdapat banyak penjual makanan dan minuman,kami membeli beberapa makanan dan
minuman sambil bertanya kearah mana Sanghyang Heuleut.Setelah dirasa cukup,kami
pun melanjutkan perjalanan.Kami masuk melewati jalan setapak yang membelah
lebatnya Hutan Rajamandala.Jalur awal yang kami lalui memang masih enak atau
masih cukup landai sehingga kami pun masih bersuka hati dengan ekspresi muka
yang belum menunjukan raut wajah kelelahan.
Kami berjalan berbaris seperti
semut,Nampak banyak sekali orang yang berjalan kea rah jalan pulang,kami sempat
berfikir bahwa kami akan telat atau mungkin hanya kami saja pengunjung
Sanghyang heuleut yang datang pukul 15.00,tetapi anggapan itu hilang begitu
saja saat kami juga melihat lumayan banyak orang yang setujuan atau searah
dengan kami.Setelah 30 menit pertama kami disuguhkan jalan yang masih bagus,dan
tidak curam,kami sampai juga disuatu sungai,disitu kami harus menyebrang sungai
untuk melanjutkan perjalanan.Kondisi jalan untuk menyebrangi sungai cukup
curam,banyak sekali batu-batu besar nan terjal yang menghalangi,tetapi itu
tidak menghalangi niat kami untuk segera sampai ke Sanghyang Heuleut.
Setelah menyebrangi
sungai,kira-kira 30 menit kedua,kami mulai melewati jalan setapak yang sudah
curam,selain jalan yang sudah menyatu dengan aliran sungai membuat kami harus
berjalan melawan arus sungai,beberapa kali kami harus menyebrang sungai lagi
hingga celana dan sepatu kami basah.Tetapi semua itu bukan penyebab urungnya
niat kami untuk tetap ke Sanghyang Heuleut.Setelah melewati 30 menit kedua,kami
mulai sampai di ujung jalan setapak,kali ini sudah benar-benar tidak ada jalan
yang enak dan bagus,hanya aliran sungai lah yang ada.Kamipun terus berjalan
melawan arus Sungai.Aku akui jalan di 30 menit ketiga ini sungguh mengura s
tenaga,aku sampai sedikit ngos-ngosan dibuatnya,dan juga sedikit keringat
keluar dari tubuhku,padahal cuaca disana lumayan dingin.
Akhirnya setelah melalui 30
menit ketiga dengan susah payah,kamipun sampai di surga tersembunyi yang sangat
indah menawan.Mata kami seakan dimanjakan dengan barisan rapi seperti
terstruktur bebatuan yang besar nan menjulang,ditambah ada air terjun mini yang
dialiri air dari hulu sungai menambah keelokan Danau Sanghyang Heuleut.Selain
itu warna air yang hijau kecokelatan menambah indah pemandangan karya Tuhan
yang sangat luar biasa itu.Terlihat banyak orang yang berenang disungai,ada
yyang menggunakan pelampung,ada juga yang tidak menggunakan
pelampung.Pemandangan itu membuat aku sangat bergairah untuk segera menceburkan
diri melepas gerah yang sedari tempat parkiran sudah tak tertahankan.
Selain banyak orang yang berenang,ada
satu pemandangan yang membuat kami takjub,yaitu ada beberapa orang yang
melompat dari batu yang tingginya bervariasi.Ada yang melompat dari batu yang
tingginya relatif rendah,namun ada juga yang berani melompat dari batu yang
cukup ekstrim tingginya,kira-kira 15 M-20M batu yang paling tinggi.Melihat
itu,Aku mengajak Deban untuk ikut melompat dari batu yang paling tinggi.Awalnya
aku bingung karena aku tidak ada pelampung,akhirnya kami mencari tempat
penyewaan pelampung.Kami hanya menyewa 1 Pelampung,Tarifnya yaitu
Rp.20.000.setelah menyewa pelampung,akulah orang pertama yang
memakainya,akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk melompat dari batu yang
berketinggian 7 M saja.Aku terus memanjat batu tersebut walaupun sedikit
sulit,tetapi akhirnya aku sampai juga diatas batu.Setelah berfikir
sejenak,akhirnya aku lompat juga.Rasanya sangat memacu adrenalin.Aku ingin
mencoba lagi,tetapi aku harus ganti giliran pelampung dengan Deban,akhirnya aku
berikan pelampung pada Deban.Tak disangka,setelah Deban memakai
pelampung,kulihat dia memanjat batu yang paling tinggi.Dalam hatiku cukup
tinggi juga nyali dia.Setelah Deban sampai diatas batu yang paling tinggi,tanpa
fikir panjang dia langsung melompat dan..Buarrr..terceburlah dia ke air.
Setelah melihat Deban melompat
dari batu yang paling tinggi,aku pun tak mau kalah,walaupun sebenarnya aku
takut ketinggian,tapi aku mencoba melawan rasa takut dalam hatiku.Aku mengambil
pelampung dari Deban,setelah aku pakai,aku langsung merangkak mendaki Batu yang
paling tinggi.Setelah aku berada di puncak batu,aku termenung sejenak,teryata
jika dilihat dari atas,batu ini sangatlah tinggi,jantungku berdebar
kencang,setengah hatiku mengatakan untuk melompat,tetapi setengah lagi
mengatakan untuk tidak melompat.Akhirnya aku memantapkan hati dan
Jeburrrrr,,,Aku berhasil melompat dari batu yang paling tinggi,setelah itu,aku
ketagihan,walaupun sedikit sakit jika kita salah mendarat.Tetapi aku mendapat
pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Melihat aku dan Deban
berenang,Akhirnya kawan-kawan yang lain pun ikut berenang dan melompat dari
batu.Irvan,Alifian,Ahmad,Koswara,Dedi,dan Mustika pun ikut menceburkan
diri.Hanya Lilis dan Kent lah yang tidak ikut berenang.Dan kali ini
Irvan,Alifian,Ahmad,Koswara,dan Dedi pun ikut melompat dari batu,hanya Mustika
yang tidak melompat,ia hanya berenang-renang saja.Tetapi yang berani melompat
dari batu yang paling tinggi hanya Aku,Deban,dan Koswara saja,yang lain tidak
melompat,alasannya karena air nya terlalu dalam.Saaat kami asyik bermain
air,Lilis merekam semua dengan Video Camera,jadi semuanya terekam dan siap
untuk ditonton sesampainya di rumah nanti.Sementara Kent dengan setia menjaga
semua barang-barang dan tas kami.
Setelah kurang lebih 1 jam kami
bermain air,akhirnya ada seorang bapak paruh baya mengumumkan bahwa areal
Sanghyang Heuleut harus sudah dikosongkan dari Wisatawan,Karena hari sudah
menunjukan Pukul 16.00 dan awan pun menunjukan tanda-tanda akan hujan.Akhirnya
kami pun bergegas untuk pulang.Tak lupa kami juga menyempatkan berfoto ria
disekitar Sanghyang Heuleut.Setelah semua dirasa siap,kamipun bersiap untuk
meninggalkan areal Sanghyang Heuleut,hujan sudah mulai turun dengan intensitas
sedang,membuat kami sedikit basah kuyup.Kamipun terus menyusuri jalan pulang
dengan kali ini medan terasa lebih berat karena banyak lumpur dihampir
sepanjang jalan,itu diakibatkan karena hujan mulai turun dengan lebat,untunglah
hutan lumaya rimbun,jadi rintik hujan tidak terlalu lebat menerpa kami.
Diperjalanan
menuju parkiran,tak banyak yang kami bahas,mungkin karena rasa lelah yang mulai
menerpa kita.Namun ada satu kejadian kocak sekaligus menyedihkkan,yaitu ketika
kami menyebrang sungai,Deban dan Mustika Jatuh,dan menyebabkan handphone
Mustika Mati atau rusak karena kemasukan air,semenjak kejadian itu,Mustika yang
awalnya banyak bicara dan cerewet,menjadi pendiam dan tidak banyak tingkah,aku
sedikiit iba padanya,tetapi ya mungkin menurut dia lebih baik begitu.Setelah 1
setengah jam kami berjalan,akhirnya kami sampai di tempat pipa raksasa,disitu
saat kulihat jam,sudah menunjukan pukul 17.00.Kami istirahat sejenak sembari
kembali berfoto-foto.Setelah puas,kami melanjutkan perjalanan menuju tempat
parkiran.Kami terus berjalan menuruni dan mengikuti arah Pipa Raksasa.Jalan yan
kami lalui sangat curam,Turunannya sangat tajam,diperparah dengan kondisi jalan
yang licin akibat diguyur hujan yang cukup lebat.
Sesampainya
di parkiran,aku kembali melihat jam,ternyata jam sudah menunjukan pukul
17.30.Setelah kami membayar parkir dengan tariff Rp.5000 akhirnya kami memacu
motor kami untuk perjalanan pulang.Saat kami sampai di gapura PLTA
Saguling,hujan kembali turun dengan derasnya,dan hari pun sudah hampir
gelap.Tetapi kami terus melaju kea rah Cipatat-Padalarang.Setelah gelap mulai
datang,kami benar-benar harus ekstra konsentrasi,terutama kami yang mengendarai
motor,bagaimana tidak kami mengendarai motor di jalan yang berkelak-kelok
membelah hutan dan tebing,minimnya lampu penerangan jalan,serta banyaknya
mobil-mobil besar seperti bus dan truk,diperparah jalan yang licin karena
diguyur hujan membuat kami benar-benar berkonsentrasi pada jalan.Kecepatan kami
saat itu pun hanya 40Km/jam.
Setelah
satu setengah jam mengendarai motor,kami tiba di rumah Koswara yang terletak di
kampong Cibacang untuk mengantarkan Koswara pulang,dari Rumah Koswara,kita
mulai terpisah,aku memacu motorku menuju alun-alun Cimahi,dari alun-alun aku
belok ke kiri kearah Citeureup tepatnya di Polsek Cimahi,sesampainya disana aku
antarkan Mustika sampai Rumahnya.Setelah itu aku memacu motorku ke arah jalan
Gatot Subroto tepatnya Rumahku.
Aku sampai dirumah pukul
19.15,sesampainya dirumah aku sedikit diomeli oleh ayah karena pergi sedari
pagi dan baru pulang malam,Namun aku menerima itu dan langsung mandi,setelah
itu aku makan dan akhirnya terlelap tidur.Ahhh…benar-benar satu pengalaman
berharga yang sangat berkesan di kehidupanku,aku tidak akan melupakan
petualangan ini.Harapanku,semoga anak cucuku serta generasi yang akan datang
nanti bisa lebih menghargai alam,menjaga kearifan alam,serta merawat alam agar
tidak rusak atau tergerus oleh kemajuan teknologi saat ini,sehingga hasilnya
pun bisa dinikmati oleh bersama-sama..Tak lupa juga aku selalu mengucapkan
terima kasih banyak kepada Tuhan,Keluarga,Kawan-kawan,serta semua orang yang
terlibat untuk menghasilkan semua cerita dan pengalaman yang luar biasa ini..
